Sari Asih @asih

http://sariasih.squarespace.com/

Neither here, nor there. All picture taken with my mobile phone except mention

  • Posts
    1610
  • Followers
    1425
  • Following
    438
Yo mouse!
  • Comments 3

Yo mouse!

Advertising
-Pesta dan Trauma-
.

Pada tanggal 15 Juni 2012, grup Papermoon dari Yogyakarta mementaskan Mwathirika di Auditorium IFI Bandung. Materi pementasan sandiwara boneka ini telah beredar di berbagai penjuru dunia dan menjadi salah satu bahan interpretasi kontemporer peristiwa 1965 di tanah air. Pementasan berjalan hening dan kontemplatif. Kami yang duduk di sana rasanya sibuk menggali kembali memori pribadi kami atas peristiwa itu, dan mengkaji nilai kemanusiaan lebih dari aspek politis peristiwa tersebut.
.

Tentunya apa yang terjadi di tahun 1965 tidak lagi perlu saya paparkan, secara ini adalah salah satu trauma terbesar bangsa ini yang terus menerus disayat dan dibangunkan dari  generasi ke genarasi. Yang menarik bagi saya adalah bagaimana mencandunya kita atas euphoria, terutama euphoria kelompok. Akhir-akhir ini, kita banyak menyaksikan peristiwa yang mengutamakan pergerakan dalam kelompok besar. Berteriak dan mengumbar emosi sepertinya menjadi cara utama untuk menyatakan kita ada.
.

Dalam pandangan saya, bangsa kita adalah bangsa yang gemar berpesta dan berkumpul. Identitas pribadi menjadi kalah penting daripada identitas kelompok. Dalam kaitan tersebut, pesta dan trauma keduanya memiliki kedekatan dengan hal yang sama: euphoria. Euphoria dalam pesta bukan sesuatu yang baru. Namun trauma? Apa kaitannya dengan euphoria? Elizabeth K. Carll dalam bukunya “Trauma Psychology: Issue in Violence, Disaster, Health and Illness” menyebutkan bahwa dalam sebuah peristiwa pembunuhan, sang pelaku mengalami dua aspek sekaligus: trauma dan euphoria. Euphoria bersifat sesaat, dan berfungsi menekan stress, namun trauma dapat bersifat menetap.
.

Tulisan ini sebenarnya sebuah pertanyaan: benarkah kita adalah sebuah bangsa yang mencandu euphoria? Apakah ini karena kegagalan kita menelusuri identitas pribadi? Apakah ini yang menyebabkan kita lebih mengutamakan identitas kelompok dan menekan identitas pribadi kita?
.

Bila pertanyaan-pertanyaan diatas dijawab dengan kata ‘ya’, maka ini menjelaskan mengapa jalan hening dan konteplatif bukanlah jalan yang populer bagi bangsa ini. Semakin jauh kita dari menemukan siapakah saya…
.

#300katauntukbandung #orgbdg
  • Comments 0

-Pesta dan Trauma- . Pada tanggal 15 Juni 2012, grup Papermoon dari Yogyakarta mementaskan Mwathirika di Auditorium IFI Bandung. Materi pementasan sandiwara boneka ini telah beredar di berbagai penjuru dunia dan menjadi salah satu bahan interpretasi kontemporer peristiwa 1965 di tanah air. Pementasan berjalan hening dan kontemplatif. Kami yang duduk di sana rasanya sibuk menggali kembali memori pribadi kami atas peristiwa itu, dan mengkaji nilai kemanusiaan lebih dari aspek politis peristiwa tersebut. . Tentunya apa yang terjadi di tahun 1965 tidak lagi perlu saya paparkan, secara ini adalah salah satu trauma terbesar bangsa ini yang terus menerus disayat dan dibangunkan dari generasi ke genarasi. Yang menarik bagi saya adalah bagaimana mencandunya kita atas euphoria, terutama euphoria kelompok. Akhir-akhir ini, kita banyak menyaksikan peristiwa yang mengutamakan pergerakan dalam kelompok besar. Berteriak dan mengumbar emosi sepertinya menjadi cara utama untuk menyatakan kita ada. . Dalam pandangan saya, bangsa kita adalah bangsa yang gemar berpesta dan berkumpul. Identitas pribadi menjadi kalah penting daripada identitas kelompok. Dalam kaitan tersebut, pesta dan trauma keduanya memiliki kedekatan dengan hal yang sama: euphoria. Euphoria dalam pesta bukan sesuatu yang baru. Namun trauma? Apa kaitannya dengan euphoria? Elizabeth K. Carll dalam bukunya “Trauma Psychology: Issue in Violence, Disaster, Health and Illness” menyebutkan bahwa dalam sebuah peristiwa pembunuhan, sang pelaku mengalami dua aspek sekaligus: trauma dan euphoria. Euphoria bersifat sesaat, dan berfungsi menekan stress, namun trauma dapat bersifat menetap. . Tulisan ini sebenarnya sebuah pertanyaan: benarkah kita adalah sebuah bangsa yang mencandu euphoria? Apakah ini karena kegagalan kita menelusuri identitas pribadi? Apakah ini yang menyebabkan kita lebih mengutamakan identitas kelompok dan menekan identitas pribadi kita? . Bila pertanyaan-pertanyaan diatas dijawab dengan kata ‘ya’, maka ini menjelaskan mengapa jalan hening dan konteplatif bukanlah jalan yang populer bagi bangsa ini. Semakin jauh kita dari menemukan siapakah saya… . #300katauntukbandung #orgbdg

It must be pretty cold up there
  • Comments 3

It must be pretty cold up there

  • Comments 2

Advertising
  • Comments 0

#sundaymorning
  • Comments 0

#sundaymorning

Fur
  • Comments 1

Fur

Advertising
Enchanted forest
  • Comments 1

Enchanted forest

  • Comments 2

#home
  • Comments 0

#home

Advertising
  • Comments 0

#homesweethome
  • Comments 3

#homesweethome

NEXT